PARA KORBAN YANG TAK BERSALAH

Ini bukanlah suatu kasus pembunuhan, perampokan, ataupun penculikan yang sepertinya semakin marak di kota-kota besar. Peristiwa ini justru terjadi di daerah yang sepi terpencil di tengah hutan Cagar Alam Tangkoko-Batuangus, Bitung, Sulawesi Utara. Peristiwa ini kerap kali terjadi menimpa para kawanan Monyet Hitam Sulawesi yang lebih dikenal dengan nama Yaki (Macaca nigra). Sebenarnya keberadaan Yaki ini di Pulau Sulawesi kian mengkhawatirkan, dalam artian jumlah populasi di hutan semakin menurun. Sehingga para ahli memasukkan yaki ini kedalam katagori hewan yang terancam punah.
Mungkin karena sudah menjadi kegemaran dan kebiasaan bagi penduduk asli Sulawesi Utara. untuk mengkonsumsi masakan hewan liar. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa pasar tradisional yang menjual belikan daging hewan-hewan liar dalam jumlah besar. Hewan yang biasanya banyak di pasaran antara lain: babi hutan terkadang ada juga babi rusa, kelelawar atau paniki, tikus hutan, ular, bahkan monyet. Hewan-hewan tersebut biasanya dijual dalam kondisi mati, untuk hewan tertentu sudah dibakar (asap) dan dipotong-potong. Masyarakat biasanya mengkonsumsi daging tersebut ketika ada hajat ataupun pesta seperti pernikahan atau pesta yang lain. Bahkan khusus bulan desember dan januari, konsumsi daging meningkat dikarenakan pada bulan tersebut banyak orang mengadakan pesta untuk menyambut Natal dan Tahun baru. Kemeriyahan perayaan Natal dan Tahun baru disetiap tahun sepertinya juga dirasakan oleh para penghuni hutan di daerah Sulawesi Utara. Pada bulan-bulan tersebut akan ditemukan banyak kegiatan illegal di kawasan-kawasan konservasi. Kegiatan tersebut yang paling terlihat adalah aktivitas perburuan. Perburuan yang dilakukan biasanya ada yang perburuan secara langsung ataupun tidak langsung. Para pemburu biasanya memasang jerat atau perangkap dan mereka akan mengecek jerat-jerat tersebut secara rutin. Ada beberapa jenis jerat yang digunakan, antara lain jerat untuk burung (dengan menggunakan tali nylon atau senar), jerat babi menggunakan tali tambang plastic, dan jerat tikus. Khusus jerat burung dan jerat babi, hewan lain biasanya juga bisa tertangkap oleh jerat tersebut. Beberapa rekan peneliti di CA. Tangkoko-Batuangus menyebutkan bahwa mereka terkadang menjumpai hewan lain sedang terjerat, seperti biawak (Varanus sp) dan juga monyet. Meskipun bukan target dari jerat yang dipasang, ketika ada hewan yang terjerat tentu saja hewan tersebut akan mereka ambil untuk dikonsumsi.

luka karena jerat

 

luka karena jerat

 

Jerat yang sering menghantui kawanan yaki adalah jerat burung. Jerat ini terkadang dipasang oleh anak-anak dan juga anak muda dengan segala keisengan mereka. Namun, mereka sepertinya tidak sepenuhnya sadar dengan keberadaan jerat tersebut di hutan. Di tahun 2010 ini saja dijumpai 8 ekor monyet terluka karena jerat ini dan 3 diantaranya adalah betina dewasa. Di beberapa group bahkan dijumpai monyet dalam kondisi yang cukup mengenaskan, seperti tangan putus, kaki bunting, pincang karena luka terkena jerat. Jerat yang dipakai biasanya terbuat dari benang nylon atau senar. Ketika monyet terkena jerat, sebenarnya mereka bias melepaskan diri dari anchor jerat tetapi mereka tidak bias melepaskan lilitan tali yang terikat. Mereka biasanya menggigit-gigit tali yang terikat tersebut sehingga lama kelamaan tali semakin erat mengikat. Dalam beberapa hari biasanya luka tersebut akan semakin parah, membengkak, bahkan membusuk. Apabila dibiarkan lama kelamaan bagian yang terkena jerat tersebut akan putus.
Di tahun 2010 teman-teman peneliti di CA. Tangkoko-Batuangus sudah berhasil menyelamatkan 5 dari 6 ekor monyet yang terkena jerat. Menangkap monyet bukanlah hal yang mudah dan tidak beresiko. Menangkap monyet di alam itu berarti kita sudah mengintervensi mereka dan hal itu tentu saja akan menimbulkan stress bagi monyet yang ditangkap dan juga monyet yang lain. Monyet hidup dalam kelompok dan tentu saja monyet yang lain akan berusaha menolong anggota yang lain ketika ada salah satu anggotanya bermasalah. Ketika salah satu monyet ditangkap, di dalam benak para monyet beranggapan kalau monyet yang ditangkap itu akan dibunuh, sehingga monyet-monyet akan membela kawannya mati-matian. Sedikit lengah saja, akan ada korban ketajaman taring monyet. Bayangkan 5 orang harus berhadapan dengan 60-80 monyet, dan itu terkadang dilakukan di tengah hutan yang rimbun dan terjadi dalam waktu yang sangat cepat.
Dari kondisi tersebut, sepertinya masih banyak hal yang harus kita benahi bersama terutama dalam upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati di Indonesia. Hal tersebut bukan menjadi tugas dari satu atau dua instansi saja melainkan kerjasama berbagai pihak untuk melestarikan sumber daya alam yang ada. Bagaimanapun apa yang kita jaga ini adalah untuk anak cucu kita kelak dikemudian hari.

2 thoughts on “PARA KORBAN YANG TAK BERSALAH

  1. Tetap semangat memperjuangkan nasib hidupan liar di Sulawesi.
    Semoga tulisan ini bisa memotivasi yang lain untuk turut mengambil peran dalam pelestarian keragaman hayati Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s